Candi Cetho, Sisi Eksotis Gunung Lawu

Foto Candi Cetho 2

Candi Cetho merupakan peninggalan jaman Kerajaan Majapahit yang terletak di lereng sebelah barat Gunung Lawu. Candi ini berdiri kokoh di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan air laut. Masyarakat setempat percaya bahwa candi ini mempunyai kekuatan supernatural.

Candi erotis ini dikelilingi oleh perkebunan teh. Untuk mencapai candi ini, pengunjung harus melewati perkebunan teh dan hutan-hutan yang curam.

Merupakan candi yang melambangkan kesuburan dalam kepercayaan Hindu, Candi Cetho masuk ke dalam wilayah administratif Desa Cetho, Karanganyar. Dalam bahasa Jawa, “cetho” berarti “jelas”, diilhami dari lokasinya yang jelas memandang ke segala arah. Dari lokasi candi, pengunjung bisa melihat puncak Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Jika pengunjung melihat ke bawah, pengunjung disajikan pemandangan Kota Surakarta dan Karanganyar.

Menurut sejarahnya, Candi Cetho berdiri pada abad ke-15. Pada masa itu, kebudayaan Hindu telah mencapai akhir jaman keemasannya. Hal itu tercermin dari bentuk candi yang merupakan penggabungan antara kebudayaan Hindu dan kebudayaan Megalithikum asli Indonesia. Asimilasi bangunan tersebut menandakan bahwa pada masa jatuhnya Kerajaan Majapahit memunculkan kembali komunitas-komunitas budaya adat setempat.

Dibandingkan dengan candi-candi Hindu lain di Jawa Tengah, candi ini mempunyai keunikan tersendiri. Strukturnya mirip dengan Candi Panataran di Blitar, Jawa Timur. Pada umumnya, pusat kegiatan candi Hindu adalah di ruang depan. Tidak dengan Candi Cetho dan Candi Panataran, pusat kegiatan kedua candi tersebut malah berada di halaman paling atas dan belakang.

Saat ditemukan oleh arkeolog berkebangsaan Belanda, Van de Vlies, tahun 1842, Candi Cetho mempunyai 14 tingkatan. Namun, pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1970, candi ini dipugar menjadi hanya sembilan tingkat oleh orang-orang kepercayaan presiden kedua Republik Indonesia tersebut.

Perubahan struktur candi diakibatkan karena para pemugar memugar candi berdasarkan konsep spiritual, bukan berdasarkan temuan asli. Hal ini mendapat banyak kritikan keras dari kalangan akademisi sejarawan dan arkeolog pada masa itu.

Candi Cetho yang dapat dilihat sekarang bukan merupakan bentuk aslinya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Beberapa bangunan baru yang dibangun pada saat dipugar adalah gapura depan, bangunan kayu untuk tempat bertapa, phallus, punden berundak, dan beberapa patung (misalnya: patung Brawijaya V, patung Sabdapalon, dan patung Nayagenggong).

Beberapa arkelog warga negara asing yang ikut meneliti Candi Cetho adalah W.F. Suttherheim, K.C. Crucq, N.J. Krom, dan A.J. Bennet Kempers. Orang Indonesia yang meneliti candi ini adalah Riboet Darmosoetopo.

Kompleks candi biasa digunakan oleh penduduk lokal beragama Hindu sebagai tempat beribadah. Tempat ini juga biasa digunakan oleh orang-orang beraliran kepercayaan Kejawen untuk tempat bertapa atau mengasingkan diri.

Candi Cetho merupakan salah satu objek wisata yang masuk dalam destinasi Paket Wisata Candi ixoTransport. Ingin mengunjungi candi ini? Segera hubungi jasa rental mobil di Solo murah ixoTransport untuk memesan paket liburan Anda.

Rate this article!